Bab 2 : Urgensi llmu Agama Bagi Wanita Muslimah

Bab 2

Urgensi llmu Agama Bagi Wanita Muslimah

Sungguh Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada kaum yang buta huruf. Beliau mengemban sebuah tugas untuk memberi lentera hidayah kepada seluruh manusia. Mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan menuju jalan cahaya yang penuh petunjuk. Membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah. Mengajar­kan al-Qur'an dan as-Sunnah. Allah berfirman:

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf se­orang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat ­ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar da­lam kesesatan yang nyata." (QS al-Jumu'ah [62]: 2)

Tugas dan amanat yang diemban Nabi SAW untuk mengajari manu­sia al-Qur'an dan as-Sunnah bersifat umum. Mencakup seluruh kaum laki-laki maupun wanita.

Ummu Salamah ra berkata, "Aku mendengar manusia sedang mem­perbincangkan masalah telaga, sedangkan aku belum mendengarnya dari Rasulullah SAW. Suatu hari, ketika aku sedang disisir oleh seorang budak wanita, aku mendengar Rasulullah SAW menyeru, 'Wahai seka­lian manusia!' Aku berkata kepada budak wanita tadi, 'Menyingkir­lah engkau dariku.' Budak wanita itu malah menjawab, 'Rasulullah SAW hanya menyeru kaum laki-laki bukan wanita!!' Aku menyahut, 'Sesungguhnya aku juga termasuk manusia!!'"2

Imam Ibnu Hazm mengatakan, "Adalah Nabi SAW diutus untuk selu­ruh kaum lelaki dan wanita secara sama. Khithab (seruan) Allah dan rasul-Nya ditujukan kepada kaum lelaki dan wanita. Tidak boleh kita mengkhususkan bahwa khithab ini khusus lelaki tidak kepada wanita kecuali dengan dalil yang jelas dan kesepakatan ulama."3

1. Wajibnya Menuntut llmu Bagi Wanita

Wanita adalah manusia yang terkena beban taklif sebagaimana lelaki.
Rasulullah SAW bersabda:

"Wanita itu semisal laki-laki (dalam hukum, Pen.). 114

Beban taklif dan kewajiban yang diembankan Allah kepada selu­ruh kaum wanita ini harus ditunaikan dengan baik dan benar, sesuai dengan tuntunan syari'at. Beban taklif yang berupa kewajiban-kewa­jiban dalam perkara kehidupan agamanya. Seperti tata cara bersuci, shalat, puasa, dan sebagainya dari perkara-perkara yang wajib.

Perkara-perkara yang wajib ini tidak ada jalan untuk mengetahui­nya kecuali dengan menuntut ilmu. Belajar dan mengetahuinya de­ngan pengetahuan yang pasti, tidak ragu dan terhindar dari kesalah­an.

Imam Ibnul Jauzi berkata, "Wanita adalah insan yang terkena be­ban kewajiban sebagaimana lelaki. Wajib baginya menuntut ilmu da­lain perkara-perkara yang wajib diketahui agar ia dapat menunaikan kewajibannya di atas keyakinan."5

Baiklah, sekarang kita cermati bersama. nash-nash yang menun­jukkan urgensinya ilmu agama bagi seorang wanita muslimah. Allah berfirman:

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengeta­hui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Se­sungguhnya orang yang berakallah yang dapat meneri­ma pelajaran. (QS az-Zumar [39]: 9)

Rasulullah SAW bersabda:
"Mehuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim"

Ibnu Hazm berkata, "Maka Rasulullah saw mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap muslim yang berakal dan baligh. 

Baik dari kaum le­laki maupun wanita Untuk mengenal kewajiban shalatnya, puasa­nya, dan tata cara bersucinya. Wajib pula untuk mengenal per­kara-perkara yang halal dan haram, yang semua itu tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak mengetahuinya Hendaknya seorang pe­mimpin untuk membebankan kepada para suami dan para majikan budak wanita untuk mengajari mereka ilmu din (agama). Bisa de­ngan mereka sendiri 

yang mengajarkan, atau membolehkan wanita belajar kepada ahli ilmu."7

Sungguh Rasulullah saw sebagai teladan kaum muslimin telah memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita dalam pengajar­an ilmu agama.

Ibnu Abbas ra mengatakan, "Aku pernah melihat Rasulullah SAW shalat, kemudian beliau berkhotbah. Tatkala beliau merasa bahwa khotbahnya tidak sampai kepada kaum wanita, beliau mendatangi mereka. Rasulullah saw mengajari mereka, menasihati dan memerin­tah mereka untuk sedekah."8

Imam an-Nawawi berkata, "Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menasihati kaum wanita. Mengingatkan mereka perkara akhi­rat dan hukum-hukum Islam. Dan anjuran bagi mereka untuk berse­dekah."9

Selanjutnya apa yang diceritakan sahabat yang mulia Abu Sa'id al-Khudri RA bahwasanya dia berkata, “ada seorang wanita yang da­tang menemui Rasulullah SAW dia berkata, ''Wahai Rasulullah! Para kaum lelaki telah pergi untuk mendengar petuah dan nasihatrnu. Ja­dikanlah bagi kami kaum wanita satu hari yang kami dapat menda­tangirnu. Engkau mengajari kami sebuah ilmu yang Allah telah mengajarimu.' Rasulullah SAW menjawab, 'Berkumpullah kalian se­mua pada hari ini dan di tempat ini.' Akhirnya, Rasulullah SAW meng­ajari mereka dengan ilmu yang telah Allah ajarkan.."10

Imam al-Bukhari berkata, "Bab pengajaran, Nabi SAW kepada umat­nya dari kaum lelaki dan wanita berdasarkan apa yang Allah telah ajarkan, tidak dengan rasio atau permisalan."l1

Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini menerangkan gambaran keadaanm para wanita sahabat Nabi SAW yang semangat dalam belajar perkara agama."12 .

Demikian pula para wanita sahabat, apabila mereka menemui ke­sulitan dalam perkara agama, mereka tidak malu untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW.

Aisyah ra menuturkan, "Sebaik-baiknya wanita adalah wanita kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertafaq­quh dalam agama."13

Ummu Salamah ra berkata, "Ummu Sulaim datang menemui Ra­sulullah SAW, kemudian dia berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Apakah wanita Wajib mandi apabi­la dia bermimpi?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ya, jika dia melihat air (mani).'"14

Walhasil, keterangan di atas menunjukkan bahwa kaum wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan kaum lelaki dalam menun­-

tut 'ilmu. Yaitu ilmu syar'i yang dapat menopang kehidupan dan ke­wajiban beragamanya. Tidak ada cara untuk mengetahui perkara yang wajib bagi kaum wanita kecuali dengan belajar dan menuntut ilmu. Boleh baginya bertanya atau keluar rumah dalam rangka me­nuntut ilmu. Agar kewajiban yang Allah embankan padanya dapat ditunaikan sesuai dengan syari'at dan jauh dari kesalahan. Termasuk dalam hal ini adalah etika dan aturan berhias wanita muslimah.

2. Apa yang Harus Dipelajar?

Setelah kita memahami arti pentingnya sebuah ilmu bagi wanita muslimah, lantas ilmu apakah yang wajib mereka pelajari? Ketahui­lah wahai saudaraku muslimah, ilmu agama ini ada yang fardhu ain dan ada pula yang fardhu kifayah. Yang kami maksudkan dengan

ilmu fardhu ain adalah ilmu yang semua orang wajib untuk mengeta­huinya. Seperti tata cara berwudhu dan shalat. Adapun ilmu yang fardhu kifayah adalah ilmu yang tidak semua orang harus mempela­jarinya. Cukup sebagian orang saja untuk mempelajarinya. Seperti

ilmu tentang pengetahuan akan perselisihan ulama dalam masalah fiqih dan lainnya.

Nah, bila demikian apa yang harus diketahui oleh para wanita muslimah?

Pertama: Hendaklah mereka mengetahui bahwa Allah Maha Esa,tidak bergantung kepada yang lain. Allah tidak boleh disekutukan.

Dia punya nama-nama yang indah. Sifatnya maha sempurna, tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya.

Kedua: Hendaklah wanita muslimah mempelajari hukum-hukum seputar tata cara bersuci. Seperti tata cara berwudhu, mandi wajib,

Fiqih, kebiasaan wanita, tentang haid, nifas, istihadhah, dan hu­kum-hukum yang berhubungan dengannya.

Ketiga: M.mpelajari hukum-hukum shalat dan puasa. Kapan sha­lat dan puasa wajib bagi mereka dan kapan harus ditinggalkan.

Keempat: Mempelajari hukum-hukum seputar manasik haji, bila memang sudah mampu. Demikian pula hukum seputar zakat. Bila

memang punya harta banyak. Mengetahui kadar nishab dan kewajib­annya.

Kelima: Hendaklah pula mempelajari hukum seputar hak-hak su­ami istri, hukum seputar hari berkabung bila ditinggal mati suami.

Keenam: Demikian pula mempelajari hukum seputar aurat, ba­tasan aurat sesama kerabat atau teman, demikian pula aturan wanita bila keluar rumah dan berpakaian. Juga hendaknya mengetahui hu­kum seputar saudara-saudara yang menjadi mahram dan bukan mah­ram, dan sebagainya.

3. Kesimpulan

Wajib bagi wanita untuk belajar dan mengetahui perkara-perkara yang ia butuhkan dalam kehidupannya. Perkara yang mendukung

kewajibannya untuk beribadah kepada Allah dengan cara yang be­nar.15

Bab 1 : Muqaddimah Penulis

Bab 1

Muqaddimah Penulis
Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perhiasan wanita muslimah. Penjelasan tentang hal itu sangat gam­blang dalam al-Qur'an dan as-1unnah. Bahkan, perhatian Islam ter­hadap perhiasan kaum wanita lebih banyak dan lebih komplet diban­dingkan dengan perhatian Islam terhadap perhiasan kaum pria. Hal itu tiada lain karena perhiasan adalah kebutuhan asasi bagi kaum wa­nita. Oleh karena itu, undang-undang dan aturan berhias wanita muslimah ini telah diatur oleh Islam dengan aturan yang apik dan se­baik-baiknya. Sehingga aturan ini sangat sesuai dengan fitrah dan na­luri para wanita, sangat sesuai dengan sifat dan karakteristik kaum wanita. Aturan ini bertujuan menjaga kaum wanita agar tetap berada di jalan yang lurus. Menjaga mereka agar tetap mulia dan terhormat, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan yang hakiki dengan menghuni surga yang maha luas di negeri akhirat nanti. Amin.

Berangkat dari sinilah hati kami tergerak untuk menggoreskan pena menuangkan sebagian ilmu tentang perhiasan wanita muslimah berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah yang shahih serta diiringi penje­lasan ulama yang terkemuka dan mumpuni dalam bidangnya

Pada asalnya, buku ini adalah kumpulan beberapa artikel yang pernah kami tulis dengan judul Wanita dan Mode yang telah dipubli­kasikan oleh Majalah Al Furqon dalam beberapa edisi. Seorang saha­bat karib kami mengusulkan agar pembahasan tersebut ditambahi dan diperluas sehingga manfaatnya lebih nyata dan tersebar kepada seluruh wanita muslimah. Maka, dengan memohon pertolongan ke­pada Allah mulailah kami menambahi dan melengkapi artikel terse­but sehingga jadilah sebuah buku yang ada di tangan pembaca seka­rang ini. Walillahil hamd.

Sungguh benar Imam Ibnul J auzi tatkala mengatakan, "Aku ber­pendapat bahwa manfaat sebuah karya tulis lebih besar daripada manfaat mengajarkan taklim dengan ucapan. Karena aku mengajar sepanjang umurku hanya bisa untuk beberapa orang saja masih bisa dihitung, sedangkan dengan karya tulis, aku bisa mengajarkan manu­sia yang tidak terhitung jumlahnya. Bukti akan hal ini, bahwa manu­sia mengambil manfaat dari buah karya orang-orang terdahulu lebih besar daripada mereka mengambil manfaat dari para guru mereka."!

Sungguh benar Imam Ibnul J auzi tatkala mengatakan, "Aku ber­pendapat bahwa manfaat sebuah karya tulis lebih besar daripada manfaat mengajarkan taklim dengan ucapan. Karena aku mengajar sepanjang umurku hanya bisa untuk beberapa orang saja masih bisa dihitung, sedangkan dengan karya tulis, aku bisa mengajarkan manu­sia yang tidak terhitung jumlahnya. Bukti akan hal ini, bahwa manu­sia mengambil manfaat dari buah karya orang-orang terdahulu lebih besar daripada mereka mengambil manfaat dari para guru mereka."!



Yang Wajib Dipakai Seorang Wanita

Bab 8
Yang Wajib Dipakai Seorang Wanita

Tidak kita ragukan bahwasanya wajib bagi seluruh wanita musli­mah untuk memakai perhiasan yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul. Apa dan bagaimana perhiasan yang wajib dipakai oleh wanita muslimah? Jawabnya:

1. Memakai Jilbab

Salah satu bentuk penghormatan Islam yang paling agung terhadap wanita adalah apa yang Allah wajibkan kepada mereka untuk mema­kai jilbab. Allah telah mewajibkan kepada seluruh wanita muslimah yang telah mencapai usia baligh untuk memakai jilbab. Hal ini ber­dasarkan dalil-dalil sebagai berikut49:

1.1 Dalil al-Qur'an Allah berfirman:



"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: "Hendak­lah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mu­dah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penya­yang." (QS al-Ahzab [33J: 59)

Ayat ini adalah dalil yang paling tegas bahwasanya wajib bagi wanita muslimah untuk memakai jilbab. Perintah memakai jilbab adalah dari Allah, sehingga ocehan sebagian kalangan bahwa jilbab hanya­ lah kebudayaan wanita Arab karena mereka tinggal di daerah panasadalah sebuah kedustaan nyata dan tindakan kekufuran yang berba­haya!! Wallahul Musta'an.
Contohlah apa yang dilakukan oleh para wanita generasi sahabat!Ketika ayat di atas turun, mereka tanpa pikir panjang langsung me­makai jilbab menerima dan patuh terhadap kewajiban yang Allah

perintahkan.Ummu Salamah RA menuturkan, "Ketika turun firman Allah 'Hen­daklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka' (QS.al-Ahzab [33J: 59) maka para wanita kaum Anshar keluar dari rumahmereka seolah-olah di kepada mereka ada burung gagak hitam kare­na kainkerudung mereka."50 Aisyah RA.berkata, "Semoga Allah merahmati para wanita kaum Muhajirin yang pertama, ketika turun firman Allah 'Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya' (QS an-Nur [24J: 31)maka mereka menyobek kain gorden-dalam riwayat yang lain: kain yang tebal-kemudian mereka menjadikannya sebagai kerudung."51

1.2 Dalil al-hadits

Ketika Rasulullah SAW memerintah para wanita pergi ke tempat pelaksanaan shalat Id, para wanita berkata kepada Rasulullah SAW "Wa­hai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab." Maka Rasulullah SAW bersabda:


"Hendaklah saudarinya memakaikan (meminjamkan)jilbabnya kepadanya."52

Segi perdalilan dari hadits ini bahwa kebiasaan di kalangan para istri sahabat adalah memakai jilbab ketika keluar rumah. Rasulullah SAW juga bersabda:

"Dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (Yang pertama) sekelompok kaum yang mem­punyai pecut seperti buntut sapi, dengannya mereka memukul manusia. Kemudian (yang kedua) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan dengan berleng­gak-Ienggok, kepala mereka bagaikan punuk unta yang h miring, mereka tidak masuk surga dan tidak pula men­dapati baunya, padahal baunya surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian."53

1.3 Dalil ijma'

Para ulama telah sepakat bahwa wanita muslimah wajib memakai jil­bab.54

Imam an-Nawawi berkata, "Kaum muslimin telah sepakat bahwa wanita terlarang menampakkan wajahnya ketika keluar rumah."55

Imam Ibnu Hazm mengatakan, "Para ulama telah sepakat bahwa rambut wanita dan badannya selain wajah dan tangannya adalah au­rat.,,56

Jika perkaranya telah jelas bahwa jilbab adalah sebuah kewajibanyang tidak bisa ditawar-tawar, maka apakah kita masih berani untuk

meninggalkan kewajiban ini atau malah mencari-cari alasan agar ke­wajiban jilbab ini bisa menjadi gugur?! Demi Allah, wahai saudariku,

seorang muslim bukanlah yang merasa berat ketika ada perintah dan seruan dari Allah, namun seorang wanita muslimah yang sejati ada­lah yang selalu menjawab dan menyambut seruan perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:


"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahui­lah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manu­sia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-Iah kamu akan dikumpulkan." (QS al-Anfal [8]: 24)

2. Keutamaan Memakai Jilbab

Sangat banyak keutamaan memakai jilbab. Di antaranya57

2.1 Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah

. Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan ti­dak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan me­reka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Ra­sul-Nya maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36)
sungguh Allah telah memerintah para wanita muslimah untuk. makai jilbab sebagaimana yang telah kami sebutkan. Wahai ukhtiudari) muslimah, ketahuilah bahwa seorang wanita adalah aurat, 'tu wajib baginya untuk menutup seluruh tubuhnya selain yang di­ualikan. Abdullah bin Mas'ud 4jl;, berkata, "Sesungguhnya wanita adalah aurat. Paling dekatnya wanita kepada Allah adalah bila ia ber­ada di dalam rumahnya."58

Imam al-Khaththabi mengatakan, "Para wanita diperintahkan untuk memakai hijab dan tertutup."59
2.2 Bukti keimanan

Tidaklah Allah menyerukan perintah memakai jilbab kecuali ke­pada para wanita mukminah. Firman-Nya:

"Dan istri-istri orang mukmin." (QS al-Ahzab [33]: 59)

Firman-Nya juga:


"Katakanlah kepada wanita yang beriman." (QS an-Nur [24]: 31)

Sekelompok wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mukmi­nin Aisyah RA dan mereka memakai pakaian yang tipis. Maka Aisyah ra berkata, "Jika kalian para wanita yang beriman, maka pa­kaian yang seperti ini bukanlah pakaian wanita beriman. Namun, jika kalian wanita yang tidak beriman, maka bersenang-senanglah dengan pakaian itu.,,60

Maka memakai jilbab adalah bukti nyata bagi wanita beriman, se­dangkan meninggalkan jilbab salah satu tanda kurangnya keimanan seseorang!

2.3 Merupakan lambang kesucian

Allah telah menyebutkan bahwa di antara hikmah perintah jilbab adalah sebagai lambang kesucian seorang wanita.Allah berfirman:

"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada me­reka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang ta­bir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka." (QS al-Ahzab [33]: 53)

Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa hijab adalah lebih suci bagi hati kaum mukminin dan mukminat. Lantas masih adakah yang me­ragukan kewajiban ini?!

2.4 Jilbab menjaga kehormatan


Islam menganjurkan seluruh umatnya agar menjaga kehormatan diri, terutama bagi kaum hawa yang mana kehormatan dirinya ada­lah barang berharga yang harus dijaga. Allah berfirman:


"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: "Hendak­lah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mu­dah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penya­yang." (QS al-Ahzab [33]: 59)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa gangguan itu akan datang bila mereka tidak memakai hijab, karena bila para wanita tidak me­makai jilbab, maka mereka akan disangka wanita yang tidak terjaga kehormatannya. Oleh karenanya, janganlah engkau nodai kehormat­anmu dengan meninggalkan jilbab!

Mintalah selalu kepada Allah agar kita bisa menjaga kesucian diri

sebagaimana untaian do'a yang diajarkan oleh Nabi SAW

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk, ke­taqwaan, kesucian, dan kecukupan."61

2.5 Jilbab adalah penutup aurat


Allah mengabarkan tentang nikmat pakaian sebagai penutup aurat badan. Firman-Nya:



"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakai­an indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan me­reka selalu ingat." (QS al-A'raf [7]: 26)

Allah juga berfirman62:

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di seti­ap (memasuki) masjid." (QS al-A'raf [7]: 31)

Imam ar-Razi mengatakan, "Para ahli tafsir telah sepakat bahwa maksud 'perhiasan' di sini adalah memakai pakaian yang menutup aurat."63

Maka jilbab yang engkau pakai, wahai wanita muslimah, adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Dengan memakai jilbab eng­kau mendapat pahala yang berlipat ganda, menjalankan perintah Allah dan menutup aurat.

Baca BAB 7 : Etika Berhias Wanita Muslimah
Baca BAB 6 : Larangan Menampakkan Perhiasan Kepada Laki-Laki Yang Bukan Muhramnya
Baca BAB 5 : Hukum Wanita Berhias
Baca BAB 4 : lslam Cinta Kebersihan dan Keindahan
Baca BAB 3 :
Baca BAB 2 : Urgensi llmu Agama Bagi Wanita Muslimah
Baca BAB 1 :  Muqaddimah Penulis
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...